Dua bulan lalu, saya memulai aktivitas magang sebagai mahasiswa semester 7 jurusan Administrasi Bisnis. Magang adalah salah satu syarat penting untuk kelulusan.
Lebih dari itu, kaum idealis (seperti saya) menganggap magang sebagai kesempatan besar untuk berkembang, untuk mencicipi udara dunia kerja yang penuh tantangan dan dinamika. Setelah melalui proses panjang pencarian tempat magang, akhirnya kaum muda agen perubahan ini ditempatkan dalam dunia kerja.
Soal tempat magang, ada yang berlabuh di tempat yang diinginkan, ada yang terpaksa ditempatkan, dan ada pula yang, meski terpaksa, berusaha berpikir positif dengan berkata, “Semua tempat sama saja!”
Dan ada cerita lucu di balik ini. Setelah sekitar satu bulan menjalani dunia kerja, ada yang bersyukur meskipun sebelumnya terpaksa menerima tempat magangnya, dan sebaliknya, ada yang justru menyesal meski magang di tempat impian mereka.
Semua itu dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan atau informasi yang keliru. Mungkin sistem permagangan kampus perlu dibenahi, atau ada faktor lain…
Lalu bagaimana dengan saya? Termasuk di kelompok mana saya?
Saya hampir mendapat tempat magang ideal. Ya, itu adalah asumsi saya tentang tempat tersebut, sesaat setelah wawancara. Namun, keputusan perusahaan yang hanya menerima magang selama dua bulan ternyata tidak sesuai dengan peraturan jurusan. Akhirnya, saya pun menjadi orang yang “terpaksa ditempatkan.”
Saat itu, saya hanya bisa bersyukur karena masih mendapatkan tempat magang. Dengan pikiran positif, saya menerima tempat tersebut sebagai tempat belajar. Namun, lagi-lagi saya datang dengan ekspektasi tinggi, yang harus dihadapkan pada kenyataan yang jauh berbeda.
Selama tiga minggu pertama, saya ditempatkan di unit kearsipan. Ada beberapa masalah mendasar di sana, dan dengan semangat (yang sebagian besar dipaksakan), saya mencoba mengatasinya. Misalnya, mengatasi tumpukan dokumen di ruang arsip dengan merapikannya.
Untungnya, pekerjaan monoton tersebut tidak berlangsung lama. Rotasi peserta magang dilakukan, dan saya dipindahkan ke unit lain—unit yang, menurut obrolan sesama peserta magang, adalah unit yang paling menyenangkan (menurut perspektif pelajar).
Benar saja, setiap hari ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Semangat belajar saya mulai kembali. Jika sebelumnya saya merasa seperti iPad yang digunakan sebagai talenan, saat itu tidak lagi. Saya mengerjakan berbagai tugas, dan semuanya terasa cukup menyenangkan… sampai saat itu tiba!
Saya ditempatkan di bagian yang penting, sangat penting. Saya harus siap siaga dan bekerja cepat serta teliti. Dilihat dari luar, proses belajar saya tampak hebat. Saya cukup baik dalam menyelesaikan tugas, hingga akhirnya saya diminta untuk tidak dipindah lagi. Dan di situlah penderitaan saya dimulai.
Mengerjakan hal yang sama selama lebih dari sebulan membuat proses belajar saya berhenti alias stagnan. Jika sebelumnya saya bersyukur telah diperlakukan seperti iPad, sekarang saya merasa seperti iPad yang tak bisa di-upgrade, mentok!
Saya mulai malas masuk kantor, berbagai alasan saya utarakan agar terhindar dari rutinitas yang membosankan itu. Sekarang, saya menulis sebagai bagian dari proses belajar saya, namun saya tahu perlu mengurangi unsur pesimisme dalam tulisan ini. Saya hanya berpikir, mulai sekarang, saya harus menjadi orang yang lebih realistis.
Semoga saya bisa konsisten menulis agar otak saya tidak jadi tumpul 🙂
Silakan kunjungi rujukan bermanfaat ini: 6 Cara Supaya Otak Kamu Tambah Tajam
