Hal-hal yang terjadi pada saya belakangan ini membuat saya menyadari beberapa hal penting. Salah satunya adalah optimisme yang bisa membuat kita terlena. Kita sering melihat dan mendengar begitu banyak informasi tentang betapa pentingnya optimisme, bagaimana sikap optimis dapat membuat hidup kita jauh lebih baik.
Saya masih setuju bahwa optimisme itu penting, namun sikap optimis yang tidak berjalan di jalur yang tepat ternyata juga bisa menimbulkan masalah. Saya mengatakan ini karena belakangan saya mengalaminya sendiri.
Apa yang saya rasakan adalah optimisme yang membangun ekspektasi—pikiran positif kita terkadang membawa kita mengharapkan hal-hal baik terjadi dalam hidup. Dengan kata lain, kita mulai berekspektasi.
Namun, seperti yang sudah menjadi rahasia umum, ekspektasi seringkali tidak sejalan dengan kenyataan. Dan kita semua tahu apa yang terjadi ketika seseorang dihadapkan pada realita yang jauh dari harapannya—ya, kesedihan.
Pengalaman ini semakin meyakinkan saya bahwa optimisme juga perlu dikelola dengan baik. Kondisi ideal adalah ketika pemikiran positif kita bersanding dengan kemampuan melihat realita yang ada. Dengan begitu, hidup kita mungkin bisa menjadi lebih baik. Sebab, berpikir positif dalam segala hal tidaklah semudah yang sering ditulis dalam buku-buku pengembangan diri.
“Expectation is the root of all heartache,” begitu kata William Shakespeare.
