Kekecewaan Semester Akhir

Di saat mahasiswa-mahasiswa lain sudah belajar dengan metodologi maju—menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tuntutan global—saya masih terjebak dalam metode pengajaran konvensional. Cara belajar ini dianggap “masih relevan” oleh sebagian besar dosen. Entah karena mereka sungguh-sungguh yakin, atau mungkin saja mereka enggan untuk berinovasi lebih jauh.

Menjelang akhir perjalanan di kampus, muncul sedikit kekecewaan yang sebenarnya bukanlah hal baru. Semester akhir membawa harapan akan sesuatu yang berbeda—lebih menantang, lebih mempersiapkan kami untuk dunia luar. Namun, kenyataannya justru monoton dan tak jauh berbeda dengan semester-semester sebelumnya. Ironisnya, kita dipersiapkan menjadi manusia unggul untuk bersaing di panggung global, tapi diajari dengan metode yang terasa usang dan membosankan.

Pada titik ini, sebagai mahasiswa semester akhir, tak ada banyak pilihan selain pasrah. “Follow the flow” menjadi prinsip tak terucap yang akhirnya diikuti hampir semua orang. Bukannya tak ingin melawan atau mengubah, tapi terkadang energi untuk mengutarakan rasa kecewa pun sirna. Lalu muncul pertanyaan yang terus bergema di kepala: Apakah ada yang salah dengan sistemnya, atau justru dengan diri saya sendiri?

Namun, di tengah kekecewaan dan kelelahan itu, ada satu alasan mengapa saya tetap bertahan: tanggung jawab. Entah bagaimana, rasa tanggung jawab ini—baik terhadap diri sendiri, keluarga, atau masa depan—membuat saya terus melangkah maju. Walau hati rasanya ingin menyerah, ada kewajiban yang harus diselesaikan. Dan bagi saya, mungkin itu saja yang masih bisa menjadi pegangan untuk menyelesaikan babak terakhir ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *